Mawar untuk Ibu

by elvan syaputra

Alkisah ada seorang pria berhenti di sebuah toko bunga untuk memesan seikat kerangan bunga yg akan ia paketkan pada sang ibu yang tingal hampir 200 km dari tempatnya, ketika turun dari mobilnya pria itu melihat seorang gadis kecil menagis tidak jauh dari toko bunga, sambil menangis tersedu-sedu, pria itu menanyakan kepada anak tadi, kenapa dirimu nak? dan dijawab oleh anak kecil tersebut “saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah yang akan saya berikan untuk ibu saya, tapi saya Cuma punya uang kecil yaitu Cuma 1000 saja, sedangkan harga mawar itu adalah 2000” pria itu merasa iba dan tersenyum lalu berkata “ayo ikut aku nak, bapak akan membelikan kau bunga mawar untuk kau berikan kepada ibumu nanti ketika telah sampai dirumah”.

Kemudian mereka menuju toko dan pria tersebut membelikan gadis kecil tadi setangkai mawar merah, sekaligus memesan seikat bunga untuk dikirimkan kepada ibunya. Ketika selesai dan hendak pulang, ia menwarkan diri hendak mengantar gadis kecil itu pulang kerumah, gadis kecil itu beranjak gembira, dan ia pun berkata ‘ia tentu saja maukah kau mengantar aku untuk mengantarkan bunga ini kepada ibuku”

Kemudian mereka berdua menuju tempat yg ditunjukan oleh sigadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Lalu gadis kecil itu menuju ke sebidang lahan kuburan dan meletakan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah, melihat hal ini hati pria itu terenyuh dan teringat sesuatu, bergegas ia pergi ketempat toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya, ia mengantarkan karangan bunga nya sendiri dan mengendari mobil sejauh hampir 200 km menuju rumah ibunnya..

(Sobat, disaat kita masih dapat melihat dan mengenggam tangan ibu kita, hilangkanlah beban, waktu serta jarak untuk dapat memberikan persembahan dan melihat ia tersenyum kepada kita seligi ia masih diberikan kehidupan untuk mengelus serta membelai dengan kasih sayangnya)

Bilik kost 21 Feb 2012

Advertisements

2 Comments to “Mawar untuk Ibu”

  1. saya sering sekali ingin pulang untuk bertemu ibu. tapi belum lama di rumah rasanya sudah tak betah karena bapak saya tukang marah-marah. Satu sisi saya ingin sering2 pulang karena ibu, disisi lain saya malas pulang karena bapak

  2. Hati ibu bagaikan hamparan sawah yang menjadikan lahan bagi anaknya untuk bercocok tanam, ibu tidak akan pernah marah, kecewa ataupun sedih dengan lahan yang ia punya apabila itu untuk kebahagian anaknya, disatu sisi bapak sebagi seorang petani yang tugasnya menggarap dan menjadikan sawahnya subur serta baik, menjaga dan merawat tanaman itu agar tetap hidup dan menghasilkan. seorang petanipun tidak ingin sawahnya kering, tidak ingin padinya rontok, tidak ingin padinya termakan hama, iapun menjaga walaupun sesekali dengan memberikan pupuk dan racun bagi hama, mencari solusi. hal inipun menyakitkan bagi sang padi tapi sebenarnya menjadikan ia sehat dan subur kembali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: