Gejolak Krisis Finansial

by elvan syaputra

Akhir-akhir ini, Dunia rajin dihebohkan dengan isu krisis financial global. Krisis yang dapat mempengaruhi hampir segala lini dari sector perekonomian Negara, khususnya Negara-negara berkembang. Puncak perekonomian Dunia serasa menemukan titik kelemahan ketika lembaga investasi terkemuka Lehaman Brothers, pada tahun 2008 mengalami kemunduran drastis terhadap sektor financialnya.

Hal ini menunjukan bahwa bangunan kapitalisasi yang mereka bangun tidak dapat membentengi arus deras financial global, hingga akhirnya mengalami krisis yang berkelanjutan.Karena itu, krisis financial yang terjadi saat ini bukanlah krisis yang pertama dalam perjalanan tatanan ekonomi dunia. Gejolak financial semakin intens mengikuti perkembangan zaman, sehingga tidak asing ketika gejala ini bermusim mengahantui perekonomian global. Dari abad keabad dan decade ke decade perekonomian selalu dibayangi oleh gerakan sector financial yang memiliki 3 gelombang besar yaitu Globalisasi, Liberalisasi dan Financialisasi.

Buku Krisis Financial Dalam Perangkap Ekonomi Neoliberal. A. Prasetyantoko yang berpropesi sebagai Penulis dan pemerhati ekonomi secara critual dan actual menyusun serpihan-serpihan perjalanan pristiwa financial global, yang ditulis dalam artikel serta opini yang pernah terbit di Harian Kompas sepanjang 2004-2009.

A.Prasetyantoko, mencoba untuk menganalisa ulang sebab akibat dan alur perjalananan runtuhnya tatanan financial global yang ditandai dengan krisis ekonomi berkelanjutan. Krisis pada dasarnya merupakan sebuah keniscayaan yang bercorak(neo)-Liberal. Menurut penulis arus liberaslisasi dalam bingkai global telah merasuki pola pikir masyarakat dalam memandang kehidupan berekonomi.

Untuk mengetahui bentangan pola siklus ekonomi yang diwarnai serangkaian krisis ekonomi dan instabilitas financial, penulis memulai ulasan dengan membawa pembaca untuk mengkaji ulang sebab akibat dari runtuhnya basis Produksi, yang mengakibatkan efek domino keruntuhan sector industri dan Denasionilisasi, yang dikenal dengan gerakan antiprivatisasi. A. Prasetyantoko menjelaskan bahwa gejala-gejala yang mengakibatkan runtuhnya basis produksi adalah; tidak adanya rancangan besar pengembangan Insdustri serta arah restrukturasi korporasi secara mikro, semuanya diarahkan pada tujuan jangka pendek yang pragmatis.

Selanjutnya, ia mengajak pembaca untuk menganalisa ulang perangka-perangkap neoliberal melalui buku Bernard Walleser yang berjudul L’economie Cognive (2000) yang mengkritik pendekatan ekonomi atas 2 ketimpangan: rasionalitas dan Keseimbangan kolektif. Tujuannya adalah untuk mengungkapan bahawasanya rasionalitas manusia bersifat terbatas(bounded rationality), karena itu, keseimbangan kolektif akan terjadi secara evolutif dan tidak  tunggal(multiple equilibria).

Pada paparan selanjutnya, penulis mengangkat pembahasan terhadap instabilitas Finansial yang juga merupakan serangkaian pola siklus ekonomi. Disini dijelaskan mengenai hipotesis instabilitas financial dalam upaya penyelamatan terhadap bahaya melesetnya sector financial ditengah terpuruknya sector riil. Hal ini dimaksud agar dapat menganalisa strategi dalam penyelamatan instabilitas financial seperti yang dikemukakan Hyman Minsky(1919-1996) bahwasanya obat dari instabilitas ekonomi adalah kreatifitas(creative destruction)

Setelah mengetahui sebab akibat dan tipu muslihat neoliberal yang merasuki segala lini dan sector financial, pembaca diajak untuk masuk kedalam realita perekonomian yang dikemas dalam tema central Gelembong Perekonomian. Penulis mengungkap kejahatan fleksibelitas dalam tatanan ekonomi yang berorientasi kepada mobilitas tenaga kerja. Logika klasiknya, ketika ekonomi mulai bergerak, maka mobilitas tenaga kerja akan lebih banyak memiliki alternative peluang kerja. Realitanya untuk menyelesaikan masalah structural ekonomi, dosis fleksibelitas lebih dulu disuntikan pada sector ketenaga kerjaan. Yang mana mungkin saja masalahnya tidak terletak disana, dampaknya tidak signifikan. Jika begitu, sama saja dengan menyuntik mati dunia perburuhan.

Namun, deretan persoalan diatas pada dasarnya mencerminkan rajutan benang merah dari seluruh tulisan di buku ini yang merupakan kumpulan artikel serta opini harian Kompas. Gejolak, Instabilitas akan menjadi sesuatu yang permanen, tatkala perekonomian baik secara global, regional maupun domestic terus dikuasai oleh sector financial. Masalahnya ada 2 pertama, bagaimana melihat fundamental perekonomian dalam perjalananan panjang dimasa lalu. Kedua, bagaimana melihat potensi potensi masalah dan resiko perekonomian dimasa depan.

Penulis : A. Prasetyantoko
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbit : Oktober 2009
Judul : Krisis Finansial dalam perangkap Ekonomi Neoliberal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: