Kasih Sayank

by elvan syaputra

“Dan tiadalah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat (pembawa kasih sayang) bagi seluruh alam.’’ (QS Al-Anbiya: 107).

Ayat ini menjadi bukti bahwa Islam memperhatikan dan mengajarkan kasih sayang. Bukan hanya untuk manusia, tetapi juga bagi makhluk lainnya. Karena itu, segala bentuk aktivitas hendaknya dibangun dengan kasih sayang. Kasih sayang dalam bentuk solidaritas persaudaraan antar sesama manusia.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa sallam menggambarkan kasih sayang di antara para pengikutnya. ‘’Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencinta, saling mengasihi, dan saling menyayang, bagaikan sebuah tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh merasa sakit, tidak dapat tidur dan terasa demam.’’ (HR Muslim).

Kasih sayang akan mengantarkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya. Dia menegaskan, ‘’Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?’ Katakanlah. ‘Kepunyaan Allah.’ Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.’’ (QS Al-An’am: 12).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan pahala dan ampunan-Nya bagi mereka yang menebarkan kasih sayang dan jiwa jiwa persaudaraan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyayangi orang-orang yang menebarkan dan mewujudkan kasih sayang. ‘’Dan sesungguhnya Allah hanya menyayangi orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang, karena itu bentuk dari sebuah persaudaraan antar sesama manusia’’ jelas Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Sebaliknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi penduduk bumi (manusia). ‘’Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia.’’ (HR Bukhari).

Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis peri kemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Alloh Ta’ala hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh perasaan yang halus.

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata, yang artinya: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR: Al-Bukhari)

Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin.karna bagi beliau kasih sayang adalah milik sesama manusia, manusia diciptakan saling berkasih karena mereka adalah saudara antara satu dengan lainnya. Asma’ binti ‘Umeis Radhiallaahu anha –istri Ja’far bin Abi Thalib- menuturkan, yang artinya: “Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: “Wahai Rasululloh, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” beliau menjawab: “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.” (HR: Ibnu Sa’ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ketika air mata Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menetes menangisi gugurnya para syuhada’ tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallaahu anhu bertanya: “Wahai Rasululloh, Anda menangis?” Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Ini adalah rasa kasih sayang yang Alloh Ta’ala letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah Ta’ala hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR: Al-Bukhari)

Ketika air mata Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf Radhiallaahu anhu bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR: Al-Bukhari)

Akhlak Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam yang begitu agung memotivasi kita untuk meneladaninya dan menapaki jejak langkah beliau. Pada zaman sekarang ini, curahan kasih sayang terhadap anak-anak serta menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya sangat langka kita temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin keluarga esok hari, mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya fajar yang dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran serta sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap para bocah dan anak-anak. Sementara Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam, kunci pembuka hati itu ada di tangan dan lisan beliau. Cobalah lihat, Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa membuat anak-anak senang kepada beliau, mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah mengherankan, karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi, karena mereka adalah saudara bagian dari kehidupan manusia sebagai khalifah fi al-ard.

Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah adalah karunia Ilahi yg dituangkan Allah dalam hati nurani hambanya yang ikhlas dan bertakwa. Ukhuwah terjalin karena perasaan cinta dan kasih sayang yang dilandasi iman dan takwa. Meskipun dikemas dalam cinta, namun tak ada dasar iman dan takwa, persaudaraan sulit terwujud dan lebih banyak kemungkinan untuk saling bertolak belakang.

Allah Swt. berfirman: Innamâ al-Mu‘minûn ikhwah. (Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara). Siapapun, asalkan Mukmin, adalah bersaudara. Sebab, dasar ukhuwah (persaudaraan) adalah kesamaan akidah.seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara kerena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat.”(Al-Hujurat : 10)

Intensitas Islam dalam membangun tali kasih sayang dalam bentuk Persaudaraan adalah hakikat dari ajaran Islam itu sendiri. Kasih sayang menjadi ajaran yang dapat dipakai (applicable) dan bersifat praktis. Pertama, kasih sayang menjadi mekanisme internal antar sesama muslim(Persaudaraan), bahkan di tengah perbedaan yang terjadi harus dilandasi dengan kasih sayang, kasih sayang menjadi sebuah bingkai yang dapat meredakan perbedaan dan keragaman umat Islam. Kedua, kasih sayang juga harus menjadi mekanisme eksternal, terlebih dalam hubungan umat Islam dengan umat lainnya.(muammalah)

Sebagai contoh konsep Islam yang sangat sederhana adalah menghargai tetangga, dalam sebuah hadits ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia menghormati tetangganya.” Juga dalam hadits yang lain disebutkan ”Salah seorang dari kalian tidaklah disebut beriman, sehingga ia mencintai saudaranya sebelum mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari).

Hubungan Kasih sayang dalam persaudaraan tentulah membutuhkan landasan-landasan berpijak. Dan landasan itu yang akan menjaga dan mengantarkan bukti kasih sayang yang telah di ajarkan Rasulullah. Dan ini akan begitu bermakna dan bernilai apabila kita dapat mengambil himahnya dan sanggup untuk melaksanakannya. Pijakan atau landasan kasih sayang inilah yang tidak hanya mampu untuk menghantarkan kita pada perasaan ukhuwwah dan rasa persaudaraan pada sesama saudara muslim kita yang sejati, tidak hanya sebatas retorika tapi sekaligus juga menopang cinta dan hubungan ukhuwwah itu sendiri.

Dilain sisi kasih sayang akan terbentuk dalam bingkai persaudaraan (ukhuwah) apabila melalui beberapa perantara, diantanya perantara Ta’aruf (saling Mengenal), Tafahum (Saling mengerti), Ta’awun (Saling bekerjasama) dan ujungnya adalah Takaful (saling menanggung. Sungguh indah islam mengajarkan tentang nilai-nilai persaudaraan dan kesatuan hati ini. Maka menjadilah kita muslim yang paling berbahagia dengan keutamaan-keutamaan ini.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam senantiasa memberikan pengajaran, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Abdullah bin Abbas menuturkan: “Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, beliau bersabda, yang artinya: “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: “Jagalah (perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR: At-Tirmidzi)

Perasaan bersaudara secara tulus inilah yang akan melahirkan pribadi mukmin yang mempunyai rasa kasih sayang dengan sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya serta perasaan ikhlash sejati. Yang akan selalu mengambil sikap positif dalam hal bercinta dan saling mengutamakan, kasih sayang dan saling memaafkan, serta dengan membantu & saling melengkapi. Juga menghindari hall negatif seperti menjauhkan diri dari segala yang menyebabkan mudharat (bahaya) dalam diri mereka, dalam harta & dalam harga diri mereka.

Oleh karena itu ukhuwwah fillah merupakan sifat yang lazim dari konsekwensi keimanan, dan merupakan perangai yang cocok sebagai teman bagi ketaqwaan.Tidak ada persaudaraan sejati tanpa adanya iman, dan tidak ada iman tanpa adanya persaudaraan.

Apabila suatu persaudaraan tidak dilandasi oleh keimanan, maka persaudaraan semacam itu tidak akan membawa kemashlahatan dan manfaat yang saling timbal balik. Begitu juga apabila keimanan tidak dilandasi dengan nilai-nilai solidaritas persaudaraan, maka bisa disimpulkan betapa rendah kadar keimanannya.

Dr. Yusuf Qordawi dalam bukunya Al Mujtama’ Al Islami mengatakan bahwa ukhuwwah Islamiyyah yang bercita-cita luhur itu mampu melahirkan al-ikhaa’ul Islami. Dan tujuan terpenting daripadanya adalah persamaan hak (al musaawah), saling membantu (at-ta’aawun), dan cinta karena Allah (al hubb fillah ).

Sebuah kisah ketika Rasulullah menyerukan untuk mengakhiri peperangan melawan musyrikin, Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang pada saat itu: ”…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah,wa antumut thulaqa….”.

“Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing.”

Laskar Islam pada waktu mendengarkan seruan rosul merasa terkejut. Mereka mersa perjuangan yang mereka lakukan selama ini sia-sia,sampai-sampai ada yang merasa telecehkan. Anggapan mereka bahwa kemenangan sudah didepan mata malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan rampasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa dari hasil peperangan selama berwaktu-waktu lamanya. Sehingga meraka mengeluh dan memprotes kepada Rasulullah. Namum Rasul mengumpulkan mereka untuk memberikan pemahan dan menjelaskan maksud atas tindakan yang beliau lakukan Rasulullah bertanya kepda mereka : ”Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun… ”Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah SAW mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Jika kita berbicara lebih jauh, Islam merupakan sumber dari kasih sayang. “Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” (H.R. Bukhari).

Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun, sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : “Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari” (HR. Muslim).

Disini jelas bahwa kita dianjurkan sekali untuk saling menjaga dan menghargai antar sesama sebagai tanda kasih sayang yang mesti dihormati. Hal ini untuk menghindari berbagai keburukan serta dapat mengenal antar sesama untuk memperkuat dan menjaga tali persaudaraan.

Dalam hadits Nabi saw.: “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihansesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak bisa tidur) dan demam (panas dingin).” (HR. Muslim).

Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Baihaqi melalui Anas ra. Nabi bersabda :
“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang”, jadi jelas bahwa yang masuk surga itu hanyalah orang-orang yang mempunyai rasa kasih sayang yang tanpa dibarengi dengan niat-niat buruk.

Rasa kasih sayang yang diniatkan karena Allah, bukan karena keuntungan dan kesenangan duniawi. Makna kasih sayang tidaklah berujung, karena itulah wujud dari sebuah persaudaraan. Rasa kasih sayang adalah sebuah fitrah yang mesti direalisasikan terhadap sesama dalam bingkai persaudaraan, muammalah sepanjang kehidupan di dunia ini. tentunya dalam koridor-koridor Islam. Ini berarti bahwa Islam tidak mengenal waktu, jarak, dan tempat akan sebuah kasih sayang baik terhadap teman, sahabat, kerabat, dan keluarganya sendiri.

Jelaslah bahwa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi akan kasih sayang dan solidaritas persaudaraan. Kita perlu mencontoh teladan Nabi saw. dan para sahabatnya yang benar-benar merealisasikan makna kasih sayang yang tanpa batas itu, tentunya untuk mencapai keridaan Allah semata yang bukan untuk mencari kesenangan dunia. Maka memang pantas bahwa Islam dikatakan sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: